RSS

Galau

24 Jun

Jakarta, 22 Juni 2012

 

“Tak bisakah aku bilang saja?”

“Apa?”

“Yah, aku bilang saja. Tinggal dikatakan saja.”

“Apa kau gila?”

Wajahnya tampak cemas. Takut. Khawatir.

“Aku hanya ingin tahu.”

“Kau ingin tahu apa? Reaksinya? Tidak usahlah. Cukup begini saja.”

“Tapi kalau aku bilang, kan ada kemungkinan kita mengalami kemajuan.”

“Itu kan baru kemungkinan. Kemungkinan tidak mendapatkan apapun atau malah yang lebih buruk bahkan bisa lebih besar lagi.”

“Kalau begitu bagaimana kalau aku cari tahu saja?’

“Cari tahu kemana? Kau sendiri yang paling tahu kalau tak ada dari mereka yang dapat dipercaya. Meskipun kau tidak mengatakannya secara terbuka, mereka pasti tahu. Itu bisa jadi bencana. Bahkan bisa jadi lebih buruk daripada kau katakan langsung.”

“Aku bisa cari orang yang benar-benar dapat dipercaya.”

“Aku yakin tak ada.”

Wajahnya mengeras. Dia yakin sekali dengan ucapannya. Tetapi aku percaya dengan keyakinanku.

“Aku sudah tunjukkan aku orang yang bisa dipercaya dalam hal seperti ini. Maka pasti ada juga orang yang bisa dipercaya selain diriku.”

“Memangnya kau mau tahu apa sih? Apa yang orang lain tahu tentang seseorang? Tak ada orang yang bisa 100% mengerti orang lain. Bahkan aku pun tidak sepenuhnya mengerti dirimu.”

“Setidaknya aku hanya ingin tahu pendapat dia tentang aku.”

“Oh, Tuhanku..”

Dia mulai mengeluh. Tatapan matanya putus asa.

“Tidakkah cukup perlakuannya padamu selama ini? Bahkan aku pun tahu bahwa dia tidak membencimu.”

“Ya, dia tidak membenciku. Tapi tidak membenci bukan berarti suka kan?”

Suaraku melemah. Akhirnya aku mengucapkannya juga. Kata-kata asing itu.

“Aku suka dia. Kurasa aku mencintainya.”

“Ya ampun. Tak perlu kau katakan itu. Apa tingkahmu selama ini tidak cukup mendeklarasikan hal itu? Cukup! CUKUP!” Suaranya bergetar. ” Jika dia juga merasakan hal yang sama, pasti dia akan bilang.”

Aku tidak sempat memperhatikan suaranya. Aku sudah tenggelam dalam kekhawatiranku sendiri.

“Tapi dia tidak pernah melihatku! Bagaimana dia bisa merasakan hal itu dan bilang?”

“Makanya aku bilang tidak usah!”

Kilat kemarahan muncul di matanya.

“Buat apa kau mempermalukan dirimu sendiri. Dia saja tidak pernah melihatmu.”

“Karena itu aku ingin melakukan ini. Setidaknya dia bisa melihat ke arahku.”

Ya. Kuharap dia melihat ke arahku meski hanya sekali.

“Setelah itu? Kau berangan menikahinya? Kau yang paling tahu bahwa itu tidak mungkin. Paling tidak, tidak akan dalan dua tahun ini.”

“Aku hanya ingin memastikan. Dua tahun ini mungkin saja akan menjadi pertimbangan.”

Wajahnya kosong. Tapi dia terus bicara.

“Dia bukan lelaki yang luar biasa. Bukan tipe orang yang akan kau gilai hanya dengan sekali dua melihatnya. Dia tidak terlalu tampan, tidak begitu tinggi. Biasa saja. Bukan tipe pria penuh pesona. Apa yang kau lihat darinya hanya berdasarkan beberapa kali pertemuan saja? Bahkan sifatnya pun tidak terlalu istimewa.”

“Aku tak tahu. Mungkin karena dia terlalu biasa? Dia tidak mencolok. Tetapi dengan melihatnya, kita tahu kita dapat meraihnya.”

“Dua tahun lagi dia akan berbeda. Kau tahu itu. Lalu, akan jadi apa dirimu nanti? apa kau sanggup menjawabnya? Apa yang sudah kau rencanakan untuk masa depanmu? Kau takkan menahannya bukan?”

Wajahnya sendu. Dia tahu sebagaimana aku seberapa dalam perasaan ini.

“Sudahlah. Sebaiknya kau persiapkan dirimu. Dua tahun lagi dia akan memutuskan. Tidak usahlah kau bilang. Cukup jadi wanita terbaik, maka dia akan melihatmu. Yakinlah dua tahun lagi kau akan dilihatnya.”

Aku terdiam. Sejujurnya aku pun tak punya keberanian untuk datang langsung dan mengatakannya. Dia benar. Dia, bagian realistis dari diriku, benar. Aku pun benar. Aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti. Ketika aku bertemu dengan lelaki itu kelak, segalanya tergantung pada siapa yang lebih dominan dari kami berdua. Aku atau dia. Maka akan terciptalah takdir bagi kami berdua.

 

To my bff:

Aku sungguh yakin kau takkan membaca ataupun mengetahui tentang ini. Karena ketika aku sampai pada akhir tulisanku ini, aku adalah DIA. 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 24, 2012 in curcol

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: