RSS

Arsip Bulanan: Juni 2012

Galau

Jakarta, 22 Juni 2012

 

“Tak bisakah aku bilang saja?”

“Apa?”

“Yah, aku bilang saja. Tinggal dikatakan saja.”

“Apa kau gila?”

Wajahnya tampak cemas. Takut. Khawatir.

“Aku hanya ingin tahu.”

“Kau ingin tahu apa? Reaksinya? Tidak usahlah. Cukup begini saja.”

“Tapi kalau aku bilang, kan ada kemungkinan kita mengalami kemajuan.”

“Itu kan baru kemungkinan. Kemungkinan tidak mendapatkan apapun atau malah yang lebih buruk bahkan bisa lebih besar lagi.”

“Kalau begitu bagaimana kalau aku cari tahu saja?’

“Cari tahu kemana? Kau sendiri yang paling tahu kalau tak ada dari mereka yang dapat dipercaya. Meskipun kau tidak mengatakannya secara terbuka, mereka pasti tahu. Itu bisa jadi bencana. Bahkan bisa jadi lebih buruk daripada kau katakan langsung.”

“Aku bisa cari orang yang benar-benar dapat dipercaya.”

“Aku yakin tak ada.”

Wajahnya mengeras. Dia yakin sekali dengan ucapannya. Tetapi aku percaya dengan keyakinanku.

“Aku sudah tunjukkan aku orang yang bisa dipercaya dalam hal seperti ini. Maka pasti ada juga orang yang bisa dipercaya selain diriku.”

“Memangnya kau mau tahu apa sih? Apa yang orang lain tahu tentang seseorang? Tak ada orang yang bisa 100% mengerti orang lain. Bahkan aku pun tidak sepenuhnya mengerti dirimu.”

“Setidaknya aku hanya ingin tahu pendapat dia tentang aku.”

“Oh, Tuhanku..”

Dia mulai mengeluh. Tatapan matanya putus asa.

“Tidakkah cukup perlakuannya padamu selama ini? Bahkan aku pun tahu bahwa dia tidak membencimu.”

“Ya, dia tidak membenciku. Tapi tidak membenci bukan berarti suka kan?”

Suaraku melemah. Akhirnya aku mengucapkannya juga. Kata-kata asing itu.

“Aku suka dia. Kurasa aku mencintainya.”

“Ya ampun. Tak perlu kau katakan itu. Apa tingkahmu selama ini tidak cukup mendeklarasikan hal itu? Cukup! CUKUP!” Suaranya bergetar. ” Jika dia juga merasakan hal yang sama, pasti dia akan bilang.”

Aku tidak sempat memperhatikan suaranya. Aku sudah tenggelam dalam kekhawatiranku sendiri.

“Tapi dia tidak pernah melihatku! Bagaimana dia bisa merasakan hal itu dan bilang?”

“Makanya aku bilang tidak usah!”

Kilat kemarahan muncul di matanya.

“Buat apa kau mempermalukan dirimu sendiri. Dia saja tidak pernah melihatmu.”

“Karena itu aku ingin melakukan ini. Setidaknya dia bisa melihat ke arahku.”

Ya. Kuharap dia melihat ke arahku meski hanya sekali.

“Setelah itu? Kau berangan menikahinya? Kau yang paling tahu bahwa itu tidak mungkin. Paling tidak, tidak akan dalan dua tahun ini.”

“Aku hanya ingin memastikan. Dua tahun ini mungkin saja akan menjadi pertimbangan.”

Wajahnya kosong. Tapi dia terus bicara.

“Dia bukan lelaki yang luar biasa. Bukan tipe orang yang akan kau gilai hanya dengan sekali dua melihatnya. Dia tidak terlalu tampan, tidak begitu tinggi. Biasa saja. Bukan tipe pria penuh pesona. Apa yang kau lihat darinya hanya berdasarkan beberapa kali pertemuan saja? Bahkan sifatnya pun tidak terlalu istimewa.”

“Aku tak tahu. Mungkin karena dia terlalu biasa? Dia tidak mencolok. Tetapi dengan melihatnya, kita tahu kita dapat meraihnya.”

“Dua tahun lagi dia akan berbeda. Kau tahu itu. Lalu, akan jadi apa dirimu nanti? apa kau sanggup menjawabnya? Apa yang sudah kau rencanakan untuk masa depanmu? Kau takkan menahannya bukan?”

Wajahnya sendu. Dia tahu sebagaimana aku seberapa dalam perasaan ini.

“Sudahlah. Sebaiknya kau persiapkan dirimu. Dua tahun lagi dia akan memutuskan. Tidak usahlah kau bilang. Cukup jadi wanita terbaik, maka dia akan melihatmu. Yakinlah dua tahun lagi kau akan dilihatnya.”

Aku terdiam. Sejujurnya aku pun tak punya keberanian untuk datang langsung dan mengatakannya. Dia benar. Dia, bagian realistis dari diriku, benar. Aku pun benar. Aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti. Ketika aku bertemu dengan lelaki itu kelak, segalanya tergantung pada siapa yang lebih dominan dari kami berdua. Aku atau dia. Maka akan terciptalah takdir bagi kami berdua.

 

To my bff:

Aku sungguh yakin kau takkan membaca ataupun mengetahui tentang ini. Karena ketika aku sampai pada akhir tulisanku ini, aku adalah DIA. 

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 24, 2012 in curcol

 
Sampingan

Seekor kodok dapat melompat sejauh 1 m. Untuk dapat melewati jurang tebing berjarak 5 m, berapa kali kodok tersebut harus melompat?

Pertanyaannya bukan yang ada di atas.

Jika ada 5 jawaban.

  1. Lima kali. Karena jaraknya 5 m, maka kodok tersebut harus melompat sebanyak 5/1 = 5 kali.
  2. Satu kali. Karena dia melompati jurang, maka pada lompatan pertama dia langsung terjatuh. Dia tidak dapat melompat lagi. Bisa jadi dia langsung mati.
  3. Tidak melompat. Karena kodok tersebut tidak mau mati.
  4. Berkali-kali. Karena dia tidak mungkin melewati jurang, maka kodok tersebut mencari jalan memutar supaya dapat mencapai tebing satunya.
  5. Ngapain sih kodok itu mau melewati jurang. Bikin susah aja!

Ini baru pertanyaannya: Jawaban manakah yang paling salah?

 

Jawabannya adalah yang ke-5.

  1. Jawaban pertama benar secara matematis.
  2. Jawaban kedua benar secara logika.
  3. Jawaban ketiga adalah jawaban nyeleneh. Tetapi bisa dianggap benar.
  4. Jawaban keempat juga jawaban nyeleneh. Tetapi benar secara logika.
  5. Jawaban kelima adalah jawaban orang yang malas berpikir. Maka dari itu saya katakan jawaban ini paling salah.

 

Seekor kodok da…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 9, 2012 in Uncategorized

 

Senyum

“Gitu dong, senyum. Kan kalau senyum jadi lebih cantik”

Itu kata-kata seniorku. Jujur, kata-kata itu yang paling aku ingat dari dia. Bukan karena saking banyaknya dia memberi kalimat penyemangat, tapi karena itu adalah satu-satunya kalimat penyemangat dari dia. Selebihnya, jangan ditanya. Dia selalu mengeluarkan ejekan-ejekan yang membuat pusing kepala setiap dia merasakan kehadiranku kapan saja, dimana saja. Sangat menyebalkan. Maka, ketika suatu saat dia berkata demikian, aku hanya tertegun. Yang ada di pikiranku saat itu adalah “Ni orang kesambet apaan?”

Aku tidak menghiraukan kalimat itu untuk waktu yang cukup lama. Ketika aku semakin sering berhadapan dengan berbagai realita sosial, kalimat ini menjadi salah satu penyemangatku. Bahwa aku bisa diterima. Bahwa dengan tersenyum, orang tidak akan salah paham padaku. Mereka tidak akan menganggap aku sombong, angkuh, ataupun eksklusif.

Hari ini pun aku harus tersenyum. Tidak peduli seberapa dipaksakannya senyum itu. Tidak peduli hatiku dongkol setengah mati. Tidak peduli diriku merasa sangat tidak nyaman. Aku harus tersenyum. Ya, aku akan tersenyum.

Hari ini aku bertemu orang yang sangat membuatku tidak nyaman. Aku selalu menghindari dia. Caranya bersikap tidak menyenangkan hati. Mungkin itu karena dia tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Aku dapat menuliskan banyak hal yang tidak kusukai dari dirinya. Tetapi akhirnya hanya ada rasa tidak sukaku padanya.

Satu hal yang kupahami, bahwa ketika kau membenci seseorang, perbuatan baiknya tetap saja akan menjadi buruk bagimu. Tetapi jika kau mencintai seseorang, perbuatan buruknya hampir tidak mengganggumu.

Maka, aku akan tersenyum.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 3, 2012 in curcol